BAB 3 – Haji Imron

By | Juli 15, 2017
Haji Imron
            Kemarin malem Nunu curhat. Katanya seminggu yang lalu dia berkenalan sama cewek di KOPMA. Kronologisnya begini:

Waktu abis kuliah Sejarah Afrika, si Nunu ga balik bareng ke kostan. Katanya mau nongkrong di KOPMA, sambil ngenet, buat nyari bahan makalah Filsafat Sejarah. Karena besok dia ada presentasi. Ya udah, Gue pulang ke kostan sendirian.
Sementara itu, sekeluarnya dari kelas Nunu langsung cabut ke KOPMA. Koperasi Mahasiswa atau lebih dikenal dengan sebutan KOPMA, merupakan tempat nongkrong para mahasiswa. Di sana banyak hal yang bisa dilakuin, mulai dari jajan cemilan, makan berat, beli koran, beli majalah, beli buku, beli pulsa, nonton live music,  manfaatin hot spot untuk ber-internet ria, dan yang paling penting ngeceng. Dua hal terakhir merupakan alasan utama para mahasiswa nongkrong di KOPMA.
Sesampainya di KOPMA, Nunu langsung nyari tempat yang strategis, buat mantau arus lalu-lintas mahasiswa yang keluar masuk KOPMA. Di pojok, ya Nunu ngambil posisi di pojok, sambil nyalain laptopnya dan ditemani dengan sepiring gado-gado, plus satu teh botol. Itu merupakan menu ngirit makan siang Nunu.
Waktu pun berlalu Nunu tenggelam ke dalam teori filsafat, mulai dari epicureanism, analytic, stoicism, skepticism, scholasticism, pragmatism, phenomenology, existentialism, postmodern, environmental dan lain-lain. Otak Nunu yang apabila dirontgen nampak segede kacang polong, tidak mampu mencerna pemikiran para filsuf. Teori-teori tersebut telah berhasil membuat Nunu impoten. Lalu daripada dibuat mati tragis oleh teori-teori tersebut, Nunu memutuskan ngesave file-file yang dirasa penting, dan ujung-ujungnya, nanti di kostan Gue yang jadi korban. Mulanya nanya kata-kata yang gak dimengerti, terus nanya kalimat yang gak dimengerti, kemudian nanya esensi dari sumber yang sedang dikaji, akhirnya nyuruh Gue bikinin makalahnya, sekalian nebeng ngeprint. Kalau udah kaya gini, kelakuan si Nunu lebih menjengkelkan dari Rowan Atkinson bahkan Nohara Sinosuke. Pengennnya Si Nunu Gue gulung pake karpet dibikin kaya lemper, kemudian diikat kuat-kuat dengan batu yang beratnya satu ton, lalu dilempar ke Segitiga  Bermuda. Kalau engga, si Nunu gue ikat ke tiang, lalu tutup matanya pake kain hitam, kemudian Gue kasihin ke penduduk Nigeria, untuk dijadikan persembahan dalam ritual Voodoo.
***
            Setelah sekian lama, Nunu terpuruk dalam dunia filsafat, tiba-tiba ada yang membuyarkan konsentrasinya, atau lebih tepatnya ada yang berhasil ngebangunin dari mimpi buruknya.
“Boleh ikut duduk?”
“Iya, silahkan” sambil tetep memperhatikan monitor. Karena telah beralih haluan, menjadi browsing photo-photo bugil.
“Makan” kata orang tadi, nawarin.
Oh iya, makasih” kata Nunu sambil tetep fokus ke monitor.
“Maniak bokep ya?”
            Nunu baru bener-bener sadar dan terperanjat, kemudian ngeminimize web yang sedang dibuka sambil gugup. Dan ketika nengok ke samping, si Nunu makin gugup, lalu bengong, matanya natap ga berkedip. Prosesor otaknya yang setara kalkulator, telat memproses input data, kalau disampingnya ada cewek cantik lagi merhatiin monitornya. Dengan segenap daya dan upaya seekor kadal, Nunu berhasil memberikan pembelaan.
“Oh ini, bukan photo bokep, tapi photo anatomi manusia modern, kebetulan Gue dapat tugas dari dosen untuk ngebandingin antara anatomi manusia purba dengan anatomi manusia modern, terutama yang berjenis kelamin perempuan.”
“Oh…” kata cewek tersebut.
“Iya begitu, suer, sumpah pokoknya kalau Gue bo’ong berani dikeroyok anak-anak paly group”. Kata Nunu meyakinkan cewek tersebut.
“Emang kuliah jurusan apa?”
“Jurusan sejarah, kamu?”
“Aku… Jerman”
“Oh iya, namaku Nunu, nama lengkapnya Nunu Cruise, tapi teman-teman biasa manggil Nunu Munu’u” kata Nunu sambil ngajak salaman.
“Rena… masih ada hubungan kerabat dengan Tom Cruise?”
“Dia adalah kaka sepupuku, cuma pas dia jadi TKI ke Amerika kebetulan ketemu sama pencari bakat, makanya sekarang jadi terkenal, padahal dia gak ganteng-ganteng amat di banding sama gue.”
            Dari obrolan tersebut berlanjut dengan saling tukar no HP. Dan sekarang, Nunu sedang heboh preparemau nyantronin Rena ke rumahnya di daerah Bubat.
            Jam 18.30 Nunu berangkat dari kostan pake motor. Dengan semangat 45 Nunu menerobos udara malam. Bubat yang letaknya lumayan jauh terasa dekat, hanya dalam setengah jam nunu telah berhasil sampai di Bubat. Lalu masuk daerah komplek. Tanpa pikir panajang Nunu menuju blok F, sedang detailnya kurang inget. Karena ketika ngobrol sama Ndia, Nunu lebih konsentrasi memperhatikan Renanya daripada omongannnya. Setelah berhasil menemukan blok F, Nunu masih kebingungan nyari rumah Rena. Susana di sana sangat sepi, gak ada satu pun orang yang lewat.
            Demi sang pujaan hati, akhirnya Nunu nekad untuk ngebel rumah yang paling deket. Dengan perasaan yang gak karuan Nunu pencet bel rumah No 1F. setelah beberapa saat, keluarlah bapak-bapak.
“Permisi pak, numpang tanya. Tau rumahnya Rena?”
“Rena? Gak tau tuh”
“Maaf ganggu, terima kasih”
“Ga apa-apa”
            Nunu gagal di rumah No 1F. tapi perjuangannya tidak surut samapai di situ Nunu pun melangkah menuju rumah No 2F. lagi-lagi Nunu menekan bel yang ada di pintu pagar. Sesa’at kemudian keluar seorang perempuan muda, cantik.
“Maaf Neng mau tanya, tau rumahnya Rena?”
“Duh… kurang tau”
“Kalau Eneng namanya siapa?” kata Nunu dengan gaya cengengesannya.
“Ratna”
“Kalau no HPnya berapa?”
           
            Bukanya ngejawab pertanyaan Nunu, itu cewek malah masuk ke dalam rumah. Nunu pun terus melakukan pencarian. Setelah dimarah-marahin oleh orang yang lagi sakit gigi, karena mencet bel terus-terusan di rumah No 12F, Nunu baru sadar, kenapa gak nelepon Rena saja. Dasar otak Nunu, otaknya ada di dengkul, masih mendingan Gue agak atasan dikit, di pantat. Lalu Nunu ngeluarin kepunyaanya (HPnya bukan  tititnya).
“Halo, Rena! Kamu rumahnya no berapa sih?”
Kan aku udah kasih tau, No 23F”
“Oh… tungguin, Gue bentar lagi nyampe”.
            Setelah sukses tersesat, akhirnya Nunu ada di depan rumah Rena. Nunu pun menekan tombol bel. Tidak lama kemudian, disambut kedatangan Rena.
“Katanya mau ke sini jam 19.00, kok baru datang sekarang” kata Rena sambil ngebukain pintu pagar dan ngajak masuk Nunu ke rumahnya.
“Tadi nyasar, nyari rumah kamu”.
“Nyasar gimana? kan udah dikasih tau alamatnya”
“Aku lupa”
           
Sekarang Nunu udah ada duduk di sofa ruang tamu rumah Rena. Rumahnya sangat nyaman, ditambah dengan design interior yang sesuai.
“Mau minum apa?
“Apa aja deh, semua yang dibuat ama kamu aku suka”
“Alah… gombal” kata Rena sambil senyum GR.
           
            Rena pun masuk ke dalam untuk membuat minuman. Nunu yang tinggal sendirian memperhatikan seluruh bagian ruang tamu. Matanya berhenti pada sebuah photo keluar yang berukuran besar, yang dipajang di di dinding. Dari sana Nunu tahu kalu Rena adalah anak sulung dari tiga bersaudara, satu adik perempuan dan yang bungsu laki-laki kira-kira TK.
“Lama ya?” Rena membuyarkan perhatiannnya.
“Wow.. apa neh, kayanya enak” mata Nunu berbinar-binar melihat pudding special yang dihiasi lelehan fla kental dan dikasih strawberry di atasnya. Selain itu Rena juga membawa dua gelas lemon tea bubble.
“Ini aku bawain pudding, aku yang buat lho, special buat kamu”
“Special buat aku”
“Iya”
            Nunu senyum, mendengar Rena membuatkan pudding special untuknya. Teman perlu kamu ketahui, GRnya Nunu lebih mirip Lutung lagi ngantuk, gedubrak ke kiri, gedubrak ke kanan, garuk sana, garuk sini, lalu muter-muterin ujung baju. Sungguh sedikit pun tidak ada anggun-anggunnya.
“Ayo… silahkan dicoba”
“Dicoba?”
“He’eh”
            Tanpa banyak nasi basi, Nunu langsung ngambil piring kecil sama pisau yang telah disediain. Satu potong, dua potong, tiga potong, terus berlanjut ke potongan-potongan berikutnya. Dengan binalnya Nunu melahap pudding satu Loyang besar tersebut hanya dalam waktu lima menit. Persis kaya kuda lumping makan nasi goreng. Rena cuma bengong melihat masterpiecenya diobrak-abrik dalam sekejap oleh tuyul kurang netek.
“Wah.. enak banget pudingnya”
“Terima kasih”
Setelah pudding habis dan perutnya kenyang, Nunu bisa ngobrol dengan baik, tanpa khwatir Naga dalam perutnya berontak. Biasanya kalau naga dalam perut Nunu berontak, suka demo kepada majikannya untuk segera dikasih makan, kalau tidak naga-naga tersebut mengancam akan melakukan makar dan melakukan serangan secara sporadis.
            Suasana di ruang tamu menjadi hangat dan menyenangkan, dan tiba-tiba.
“ Bentar ya, aku ke dalam dulu manggil Mama”
            Tanpa menunggu jawaban dari Nunu, Rena segera masuk ke dalam. Nunu yang hendak mencegahnya, hanya bisa pasrah. Rena pun kembali bersama Mamanya, yang lumayan masih muda.
“Nih Mah, kenalin teman Rena”
“Nunu… Tante” kata Nunu sambil menjabat tangan ibu Rena, dan sedikit membungkukan badanya sebagai tanda hormat.
“Teman kuliah Rena?”
“Bukan Tante, teman kampus tapi beda jurusan”
“Oh… kirain teman kuliahnyanya, di sini ngekost?”
“Tidak, saya asli Bandung” Nunu berbohong
“Bandungnya di mana?”
“Di Gerlong”
“Oh di Gerlong…. Kalau di Gerlong Tante banyak kenalan, Nunu ayahnya siapa?”
“Haji Imron”
Nunu ngejawab dengan mantap dan penuh percaya diri. Perlu diketahui, Haji Imron merupakan orang terkaya dan terpandang di Gerlong jadi hampir semua orang tahu Haji Imron. Dia memiliki sekitar 3.000 kamar kost-kostan, satu blok ruko yang disewakan, warnet yang besar dan dia juga merupakan juragan angkot. Ada untungnya ngejawab anak Haji Imron, pikir Nunu. Dengan begitu Nunu bisa mendapat simpati dari ibunya Rena.
“Bukannya Haji Imron anaknya cuma satu? anaknya perempuan, itu juga udah menikah. Ibu sering ke rumahnya haji Imron, dia kan temannya ayah Rena”.
HENING
***

baca juga :
BAB 1 - UGD
BAB 2 - Ganja VS Kentut
BAB 4 - Vanilla Late
BAB 5 - Klapetart

#wahid m

   Update dilakukan satu bulan sekali, yaitu setiap tanggal 5 pukul 21.00 wib. Kenapa tanggal 5? karena tanggal 5 merupakan tanggal keramat (gue gajiannya tanggal 5 guys he.. he... jadi pas lagi posting, hati lagi seneng)
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *