BAB 2 – Ganja VS Kentut

By | Juli 15, 2017
Ganja VS Kentut
Hari ini Gue berangkat pagi, meskipun tidak biasa masuk kelas on time. Hal ini dilakukan karena dosen mata kuliah Sejarah Indonesia Kuno yang perfeksionis, yang memiliki sejumlah aturan, yang tidak bisa ditawar. Seperti ga boleh telat masuk kelas, lebih dari  5 menit, tidak boleh pake celana jeans bolong, tidak boleh pake sandal, tidak boleh gondrong bagi mahasiswa cowok, tidak boleh pup di kelas, tidak boleh bawa binatang buas, tidak boleh goyang ngebor selama kuliah, tidak boleh ngelempar teman dari lantai 6 dan lain-lain. Hal itu tidak masalah, asal kuliahnya menyenangkan dan yang paling penting gak pelit nilai. Celakanya malah kebalikannya yang terjadi. Selain itu Gue ada presentasi makalah, so perlu datang lebih pagi.
Perlu kamu ketahui teman, kuliah di jurusan sejarah banyak mata kuliah yang menggunakan buku sumber dalam bahasa asing, tebal pula. Makanya, mahasiswa jurusan sejarah memiliki tiga kemungkinan: 1) masuk Rumah Sakit Jiwa 2) bunuh diri di rel kereta api karena depresi 3) menjadi orang super jenius yang bisa ngalahin om Aristotle
Ketika masuk ke gedung, Gue langsung menuju lift. Ternyata lift udah mau nutup, Gue lari lalu masuk. Tapi apa yang terjadi? Pintu lift ga mau nutup, meski tombol closeudah ditekan berkali-kali.
“Ini pasti kelebihan beban” kata orang yang berdiri di samping Gue.
Lalu semua mata tertuju ke Gue. Ok, ok Gue ngerti, ini berarti kehadiran Gue di dalam lift, tidak dinginkan oleh para intelektual calon penerus generasi bangsa ini. Gue pun keluar dari lift. Lalu setelah tombol close ditekan dari dalam, liftnya pun menutup. Gue kesel, itu berarti Gue harus jalan kaki naik tangga ke lantai 6, apalagi sempat terlihat di dalam, beberapa cewek bisik-bisik sambil melihat ke arah Gue, yang disusul dengan cekikikan yang ditahan. Ada juga yang melambaikan tangan dengan gaya Miss Universe. Sial… 
            Dengan penuh perasaan terpaksa, Gue pun menghampiri tangga, lalu menaikinya dengan lunglai (perlu diketahui, menaiki di sini, lebih bermakna seperti menaiki jembatan, bukan seperti menaiki di malam pertama, apa lagi menaiki kuda rodeo). Akhirnya sampai di depan pintu kelas sambil ngos-ngosan. Untung kelas belum dimulai. Gue datang tepat waktu, nyaris saja, karena begitu Gue masuk kelas, diikuti oleh dosen dari belakang. Hampir saja teman, maut memang tipis batasnya dari kehidupan.  
  ***
Setelah kelas dimulai, dosen memberikan sambutan alakadarnya. Kemudian nyuruh Tedi presentasi, diikuti oleh si Jawa, lalu Rusuh-man. Sebelum nama Gue dipanggil, dosen marah-marah karena dari tiga yang presentasi tadi, tidak cukup memuaskan di mata dia. Kelas yang sejak awal sudah tegang, menjadi semakin mencekam.
“Bapak kecewa dengan apa yang telah kalian tampilkan, pembahasannya masih terlalu dangkal, begitu pula dengan analisisnya, kurang tajam. Bapak harap yang terakhir ini sedikit lebih baik. Silahkan Asep maju ke depan!”
Dengan gugup Gue langsung ke depan sambil bawa laptop dan alat tulis. Kemudian menyalakan laptop dan menyambungkannya ke infokus dan speaker aktif. Karena tegang Gue mengambil inisiatif untuk membuka file presentasi Power Point dari My Recent Document bukan dari Windows Explorer, dengan maksud biar lebih cepet. Setelah masuk ke My Recent Document, langsung ngeklik file yang ada di sana, kemudian berdiri ke papan tulis untuk memulai presentasi.
            OMG…!!! Teman mau tahu apa yang terjadi? Video bokep Miyabi tampil di white board, dengan suara speaker yang kenceng. Dosen diem karena shock, Gue diem mematung sambil mangap dan mata melotot, kelas hening, Nunu coli. Setelah tersadar, Gue langsung matiin itu video, lalu minta maaf sama dosen dan kelas. Dosen masih bengong, gue presentasi.
            Ini pasti kerjaan si Nunu, yang pake laptop buat nonton film bokep, setelah Gue tidur. Karena tadi malem Gue cuma buka file presentasi, untuk latihan tampil. Jadi seharusnya ga ada file lain di My Recent Document, selain file presentasi.   
Setelah selesai presentasi, dosen kemudian menerangkan materi yang ada kaitannya dengan presentasi barusan. Tapi sayang sekali tidak menerangkan siapa itu Miyabi? kapan lahirnya? di mana alamatnya? ukuran bra-nya berapa? gaya pavoritnya apa? doggy styleatau missionaries style?
Di tengah ceramah yang ga boleh disela apalagi didebat, anak-anak mulai menunjukan gejala-gejala boring, mirip seperti gajah yang mengalami gangguan tukak lambung. Begitu pun Gue, pikiran mulai melayang ke mana-mana, mengarungi alam purbakala tatkala manusia hidup tidak menggunakan pakaian, dan mengandalkan hidupnya dari berburu dan meramu.
Mungkin pengaruh ceramah dosen yang lebih mirip siaran RRI di pelosok negeri, timbul tenggelam. Bukan hanya pikiran yang jalan-jalan, tangan pun ngisi waktu dengan ngupil. Kebiasaan kaum intelektual seperti halnya Socrates, Émile Durkheim, dan Auguste Comte (tidak didukung dengan fakta-fakta yang meyakinkan). Alhasil, upil pun didapat, upil setengah kering sisa semalam. Maklum tadi berangkat, cuma mandi ular (ularnya aja yang dimandiin) khawatir telat masuk kelas.
Masih dalam keadaan melamun, itu upil gue puter-puterin menggunakan jempol dan telunjuk, mengikuti insting nunggu giliran main gundu, ketika waktu kecil. Makin lama upilnya jadi bulet bertekstur, karena ada perpaduan antara upil kering dengan upil basah. Ukurannya pun semakin kecil, karena menjadi lebih padat, warnanya coklat tua. Pas tersadar, langsung terperanjat.
“lho ko megang upil?”
            Gue duduk di pojok belakang, sebelah kiri, jadi posisi ini adalah posisi yang paling pas untuk menghindari pantauan dosen.
“Boy… Boy… lu tau ganja ga?”
“Tau yang buat mabok itu kan” jawab si Boy dengan penuh percaya diri, seolah dia adalah seorang pemake sejati, yang wawasannya luas tentang obat-obat psikotropika. Padahal paling banter dia mabok lem Aibon.
“Maksud Gue, lu pernah liat?”
“Belum, kenapa gitu?”
“Nih Gue pegang bijinya” sambil ngacungin tangan ke muka si Boy.
“Wah… yang bener lu?” sambil ngambil upil
“Bener, lu liat aja sendiri”
“Oh… jadi kaya gini biji ganja?”
“Yup”
Si Boy memeriksa biji ganja dengan saksama. Dia amati dari berbagai angel, sempet-sempetnya dia ngeluarin lup dari tasnya, lalu memeriksanya. Lup? teman buat apa si Boy kuliah Sejarah Indonesia Kuno bawa-bawa lup? Lalu si Boy mangut-manggut takjub, kaya beker yang ada ayam-ayaman di dalamnya. Kemudian dia berguman.
“Wah… ini bener-bener biji ganja”
            Masih dengan muka takjubnya, Boy nujukin biji ganja tersebut ke Prem, dari Prem di over ke Choky, kemudian digiring ke Zemba, lalu diheading ke Menir, ditendang ke Antum, digocek ke Jhon, dan setelah melewati padang pasir, gunung, jurang, hujan petir juga badai, akhirnya biji ganja pun sampai ke tangan Elsa, yang duduk  di pojok paling depan.
            Gue sebenernya ga nyangka kalau itu biji, bakal melanglang buana ke seantero kelas. Elsa memperhatikan biji tersebut sambil nanya ke Itok yang duduk di sebelahnya.
“Tok, bener ini biji ganja?”
“Katanya sih, tapi ga tau juga”
            Elsa yang memiliki naluri detektif makhluk gaib, tidak serta-merta percaya begitu saja. Dari kejauhan terlihat dia hendak memasukan biji tersebut ke mulutnya untuk digigit. Gue kaget lalu dengan buru-buru Gue ngeluarin HP dari kantong celana, dengan sigap ngirim pesan ke Elsa. Tapi celakanya itu biji keburu masuk ke mulut Elsa. SMS nya ternyata terlambat.
TIT… TIT…       TIT… TIT…
            HP Elsa berbunyi, lalu dia membukanya dengan tangan kiri, karena tangan kanan sibuk megang biji ganja.

Dengan ekspresi kaya Gorila abis minum aspal, tiba-tiba Elsa berdiri sambil ngeliat ke arah Gue.
“Bener, ini upil elo?” kata Elsa, sambil ngacungin upil.
            Seluruh mata di kelas tertuju ke Gue. Gue cuma ngangguk dengan wajah tanpa ekpresi. Elsa langsung lari ke WC sambil nahan jackpot, diikuti oleh anak-anak sekelas yang hendak mensucikan tangannya yang sudah terkena najis yang paling najis. Di dalam ruang kelas cuma ada Gue dan Dosen yang bengong.
***
Pas kelas bubar Gue sama si Nunu cepet-cepet ngehampirin lift, karena takut dikeroyok masa, sama kapok ga kebagian tempat. Itu juga nyaris saja ketinggalan, lift baru saja pintunya bergerak mau menutup, Gue lari nahan pintu lift, lalu masuk terus menekan tombol close, lalu tombol 0 untuk menuju basement. Ketika suasana hening, tiba-tiba ada yang nyeletuk.
“Emh… bau kentut”
“Iya nih bau kentut”
            Gue coba ngendus-ngedus ke sekitar, kaya kambing mau kawin. Bener saja tercium bau kentut. Dengan muka keki, Gue juga ikutan memberi komentar.
“Emh… bau banget”
            Si Nunu juga ikutan ngomong
“ Siapa sih neh yang kentut?”
            Tapi tak seorang pun yang ngaku, malah pada tutup hidung. Bayangkan teman! bayangkan! di ruang sempit yang tertutup rapat serta sesak dengan orang, tiba-tiba dicemari oleh emisi dari knalpot manusia yang bernama kentut. Apakah menurutmu itu bukan tindakan yang keji dan biadab? Kepala langsung jadi pening, dalam hati Gue sumpahin itu orang yang kentut, supaya ga buang hajat selama 2 bulan, engga deh 3 bulan kayanya lebih pas.
            Sempat terlintas dalam benak Gue, untuk menemukan suatau formula yang bisa dicampur ke dalam makananan. Akibatnya kentut yang dihasilkan akan memiliki warna, persis kaya lampu wasiat yang digosok sama Aladdin. Warnanya macam-macam, tergantung makanan apa yang dimakan, misalnya kuning untuk buah-buahan, hijau untuk sayuran, merah untuk daging, biru untuk minuman bersoda, dan lain-lain. Sehingga apabila orang yang makan 4 sehat, 5 sempurna kentut, maka akan mengeluarkan asap wana-warni kaya kembang api. Gue bisa bayangin betapa indahnya kentut. Dan orang yang kentut bakal langsung ketahuan. So, ga bakal ada acara orang ga ngaku kalau dia kentut.
            Sempat Gue mencoba untuk mengusulkan ide nan menakjubkan tersebut, dalam sebuah seminar internasional dengan tema “Pengaruh Kurang ASI Terhadap Perolehan Jodoh”. Tapi ide Gue yang sarat nilai intelektualis ditolak mentah-mentah oleh audience, mereka beralasan bahwa, keberadaan asap kentut akan semakin bertambah banyak, dan hal ini dikhawatirkan akan menggeser populasi umat manusia di muka bumi.
            Dalam suasana seminar yang riuh, tiba-tiba ada seorang yang yang mengacungkan tangan, kemudian moderator meminta semua audience tenang, dan mempersilahkan orang yang mengcungkan tangan untuk angkat bicara.
           
“Saya punya ide, dari pada kentut diberi warna, bagaimana kalau dijadikan bahan bakar alternatif pengganti elpiji yang semakin mahal”
            Kemudian dia maju ke depan dan menerangkan secara rinci perhitungannya di papan tulis.
->  Dianalogikan 1 orang setiap hari kentut sebanyak 3 kali
->  Rata-rata 1 kentut yang normal memiliki berat sebesar 0,05 gram
->  Jadi setiap hari satu orang menghasilkan kentut 3 x 0,05 = 0,15 gram
->  1 bulan berarti 0,15 x 30 = 4,5 gram
->  1 tahun berarti 4,5 x 12 = 54 gram
1      kentut per orang x jumlah penduduk Indonesia jadi 5,4 x 238.452.952 = 1.287.645.940.8 gram atau 1.287.645,9 kg
->  Setelah mengalami pengolahan dengan menggunakan teknik bio gas yang dikombinasikan dengan teknik tekanan tinggi udara panas, bobotnya berkurang menjadi 1.287.345,9 kg
->  Apabila dimasukan ke dalam tabung gas 3 kg maka akan diperoleh  

1.287.345,9 = 429.115
       3

 

 

                                              Tabung BBK
                                        (Bahan Bakar Kentut)
            Sungguh sebuah nilai yang fantastis. Dan ketika orang tesebut selesai melakukan presentasi, audience menyambutnya dengan tepuk tangan. Teman mau tahu siapakah dia? Dia adalah Prof.Dr Teu Jejeg, kedengarannya seperti nama Zimbabwe, tapi percayalah dia asli Garut, dengan kata lain dia merupakan seorang putra dari bangsa tercinta kita ini, bangsa Indonesia, sungguh sangat membanggakan. Dia juga ternyata seorang peneliti yang berhasil menemukan pembangkit listrik tenaga bau mulut. Teman kamu pasti speechlesskagum, mendengar kabar tersebut, Gue pun demikian.
***
   Ketika lift berhenti, dan pintunya terbuka semua orang langsung berhamburan termasuk gue ama si Nunu. Ketika berjalan keluar dari gedung, Gue masih kesel dengan kejadian tadi.
“Eh Nu kurang ajar tuh… yang tadi kentut di lift”
      Kata Gue dengan muka murka durjana. Yang diajak ngobrol bukan ngejawab, malah cungar-cengir kaya kuda keselek bola bowling.
“He… he… sebenernya yang tadi kentut, Gue”
      Ternyata yang tadi kentut di lift adalah Mutan gagal, hasil kawin silang antara Badak dengan Tringgiling yang ada di depan Gue.
“Heh… kampret ternyata elo yang kentut tadi”
      Kata Gue sambil ngelepas sepatu, lalu dipake untuk nyambit muka si Mutan. Tapi itu Mutan berhasil ngelak. Lalu mengeluarkan jurus langkah seribu.
“Arrrrghhhtt……”

            ***
         Update dilakukan satu bulan sekali, yaitu setiap tanggal 5 pukul 21.00 wib. Kenapa tanggal 5? karena               tanggal 5 merupakan tanggal keramat (gue gajiannya tanggal 5 guys he.. he... jadi pas lagi posting, hati lagi     seneng)
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *