TAMBANG UANG FACEBOOK, DAN TWITER DI ERA SEKARANG

By | Juni 6, 2019
Akhir tahun 2012, total kekayaan pendiri Facebook, Mark Eliot Zuckenberg mencapai USD 19,2 miliar atau sekitar Rp 176,64 triliun. Orang terkaya di Indonesia versi Forbes tahun 2013 dipegang oleh R. Budi Hartono dengan total kekayaan USD 8,5 miliar atau sekitar Rp 78,2 triliun dari berbagai sektor bisnis (sumber). Pendiri Ubuntu (distributor Linux asal Afrika Selatan) dan Canonical, Mark Shuttleworth mencatatkan kekayaan bersih sebesar USD 500 juta atau sekitar Rp 4,6 triliun, bahkan telah mampu mengantarkannya menjadi wisata angkasa luar bersama Soyuz (Rusia). Wikipedia sendiri memiliki nilai yang mampu menembus angka billion USD. Semua orang menggunakan produknya dengan bebas (free). Lalu bagaimanakah mereka mendapatkan uang?

Tambang Uang Facebook dan Twiter

Facebook

Hanya dari sebuah perusahaan kecil yang semula mengembangkan situs jejaring sosial sampai pada IPO saham di Wall Street. Facebook merupakan korporasi dengan nilai mencapai ratusan juta dolar. Jejaring sosial yang mereka kembangkan, Facebook kini menjadi jejaring sosial nomor satu di dunia yang paling banyak digunakan secara luas oleh berbagai kalangan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Siapapun boleh memanfaatkannya (Sign-up), tanpa harus dipungut biaya atas fasilitas dan layanan Facebook. Anda bisa menampilkan profil pribadi, meng-upload foto, dokumentasi tulisan, mengirimkan pesan (inbox), menjalin pertemanan, memanfaatkan fitur keamanan, bermain game, dan sebagainya. Tidak sedikit dari penggunanya yang mendapatkan manfaat positif, bahkan sampai pada manfaat finansial. Lalu apa yang diterima oleh Facebook dan Mark Zuckenberg?
Pernahkah Anda mendengar atau mungkin bermain aplikasi game di Facebook? Sebut saja di antaranya seperti Zinga, Poker, Farm Ville, dan lain sebagainya. Cukup dengan hanya memiliki akun Facebook sudah bisa mengakses game online yang disediakan oleh pengembangnya (pihak ketiga). Di sinilah Facebook meraup keuntungan finansial. Seluruh pengembang aplikasi permainan di Facebook harus membayarkan jasa pemanfaatan web kepada Facebook. Apalagi aplikas permainan tersebut masih dimainkan pada halaman Facebook. Para pengguna masih bisa mendapatkan notifikasi inbox, pertemanan, ataupun notifikasi news, tanpa harus berada di luar halaman Facebook. Sungguh mengasyikkan bukan? Nah, di situlah harga yang akan dimintakan oleh Facebook kepada pihak pengembang aplikasi permainan.
Facebook saat ini juga menyediakan ruang untuk iklan (advertising room) yang akan ditampilkan pada setiap akses di halaman dinding, profile, photos, notes, dan sebagainya. Sempat muncul semacam browser addons yang dapat menutupi iklan di Facebook. Tetapi pihak Facebook kemudian mengubah kebijakan privasi yang tidak lagi bisa dibatasi oleh addons (filter iklan) manapun. Untuk bisa menampilkan iklan ini pun harus membayar ke pihak Facebook. Besarnya tarif iklan tentunya tergantung dengan ketentuan tampilan, seperti desain, lama tampilan, lokasi, dan sebagainya. Untuk Indonesia sendiri, pihak Facebook telah membuka layanan iklan domestik yang dibuat oleh pihak pemasang iklan dari Indonesia. Facebook bisa meraup uang miliaran rupiah per hari dari seluruh penayangan iklan dari pemasangannya di seluruh dunia.

Inilah sumber pendapatan terbesar dari Facebook, yaitu Google. Bagaimana Google membayarkan jasa untuk kepada Facebook?

Anda bisa mendapati akun Facebook saya dengan hanya menuliskan 'Leo Kusuma' pada mesin pencari Google. Disamping itu, Google pun akan mengarahkan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kata kunci nama tersebut yang berasal dari Facebook. Ini bukan semata otomatisasi mesin pencari, melainkan sebagai bisnis. Info akun Facebook yang ditampilkan pada halaman hasil pencarian di Google tersebut ditampilkan atas seijin dari Facebook. Mereka telah menjalin kerjasama, sehingga Google bisa mendapatkan kode halaman profile Facebook seseorang, grup, fan page, ataupun likes group. Pengguna internet tentunya cukup akrab dengan mesin pencari Google, karena dianggap bisa menemukan apapun yang mereka cari, termasuk akun profile atau segala sesuatu dari Facebook. Inilah reputasi bisnis yang terus dipertahankan (dibayarkan) oleh Google. Jika Mark tidak menghendaki, Mark tidak akan memberikan kode halaman Facebook ke Google. Jika sudah begitu banyak seperti virus pengguna Facebook, lalu mereka tidak bisa menemukan Facebook, tentu mereka akan beralih ke mesin pencari lain. Faktor itu pula yang kemudian mendorong Google untuk menciptakan pesaing Facebook yang disebut Google Plus.
Pada awalnya, fungsi Facebook inbox hanya ditujukan untuk pengiriman pesan ke sesama pengguna akun Facebook. Jutaan pesan terkirim setiap harinya melalui layanan inbox, secara perorangan, pesan kelompok (pesan interaktif lebih dari satu dua orang), ataupun berupa pesan berantai. Frekuensi pengiriman pesannya bahkan mampu melampaui pengiriman pesan melalui layanan Yahoo!, Google Mail, maupun MSN Mail. Inilah bisnis baru yang dikembangkan. Sejak hampir dua tahun lalu, Facebook merubah kebijakan layanan pesan yang bisa dikirimkan ke penerima pesan di luar Facebook atau berupa alamat email. Jadi layanan inbox dari Facebook sudah bisa terhubung dengan layanan email. Tetapi ingat, tidak semua layanan email bisa digunakan sebagai tujuan pengiriman pesan. Seperti Yahoo! harus bekerjasama membuat kesepakatan bisnis dengan Facebook.
Beberapa waktu yang lalu Facebook sempat meluncurkan aplikasi chat berbasis OS Windows yang disebut Facebook Messenger. Sebelumnya, Facebook chat sudah bisa diakses melalui sejumlah software messenger seperti Pidgin (dengan Facebook chat plugin), bahkan Yahoo Messenger pun turut menyertakannya sebagai fitur layanan standar. Satu kali sempat muncul pengembang aplikasi (open source) yang mendesain Facebook Messsenger, tetapi aplikasi tersebut kemudian dimatikan, karena pihak Facebook menutup akses atas aplikasi ilegal tersebut. Melihat begitu besar pengguna Facebook chat, kemudian bermunculan aplikasi-aplikasi yang mengakses Facebook chat, termasuk aplikasi yang beroperasi pada OS Linux. Ini adalah peluang bisnis. Pihak Facebook akan bisa mendapatkan lebih banyak uang apabila mengembangkan aplikasi sendiri.
Salah satu aplikasi favorit pengguna ponsel BlackBerry adalah aplikasi “Facebook for BlackBerry”. Research in Motion (sekarang bernama BlackBerry) harus membayarkan cukup besar uang ke pihak Facebook atas lisensi aplikasi tersebut. Pengembangnya memang pihak RIM, tetapi otorisasi atas akses ke Facebook tadi bukan sesuatu yang gratis. Begitu pula dengan aplikasi Facebook pada ponsel Nokia. Lalu bagaimana dengan aplikasi Facebook for Android? Seluruh pengembang aplikasi Facebook berbasis Android meluncurkan dua versi, yaitu versi free dan versi berbayar. Apapun versinya, mereka tetap harus membayarkan layanan akses tersebut ke pihak Facebook. Jika tidak, Facebook akan membatasi layanan yang bisa diakses oleh aplikasi Facebook.
TAMBANG UANG FACEBOOK, DAN TWITER DI ERA SEKARANG

Twitter

Twitter sesungguhnya masih jauh lebih populer ketimbang Facebook. Sebagian besar orang mulai dari politisi, pejabat publik, tokoh publik, hingga salesman memiliki akun Twitter. Tweet adalah istilah untuk menggambarkan penyampaian pesan mulai dari isu-isu nasional, internasional, isu politik, hingga gosip kampung. Twitter memperkenalkan istilah 'hashtag' yang kemudian turut membentuk sebuah budaya baru dalam berkomunikasi di jejaring sosial. Tidak seperti Facebook yang dapat memuatkan pesan status dengan jumlah karakter lebih banyak, tetapi Twitter relatif lebih disukai untuk menyampaikan sebuah pesan khas yang disebut Tweet. Twitter mendapatkan uang dengan cara yang kurang lebih sama dengan cara yang dilakukan oleh Facebook.
Sekarang ini untuk mendapatkan rangkaian Tweet tidak lagi harus memiliki akun Twitter. Siapapun bisa mendapatkannya hanya dengan mengakses melalui mesin pencari Google. Pihak Twitter menerbitkan fasilitas layanan yang menghimpun sejumlah Tweet dari pihak tertentu berdasarkan kelompok hashtag yang disebut Chiphistory. Di sinilah pihak Google kemudian harus membayarkan ke Twitter agar mesin pencarinya dapat menjangkau keseluruhan layanan Twitter yang dibuka ke publik. Tidak hanya Google, tetapi termasuk pula Yahoo! dan Bing (Microsoft). Tidak hanya Chiphistory, akses informasi seperti profile seseorang pun bisa diakses melalui mesin pencari. Tetapi semua itu tidak berarti gratis. Pihak pengelola mesin pencari (search engine) diharuskan membayarkan sejumlah tertentu ke pihak Twitter. youtube
Bagaimana apabila seperti Google tidak mau bekerjasama dengan Twitter?
Twitter bisa membuat halaman (site) khusus yang diperlengkapi dengan mesin pencari sendiri. Tidak akan sulit bagi Twitter yang memiliki jutaan user untuk mensosialisasikan ataupun mempopulerkan di kalangan pengguna Twitter maupun bukan pengguna Twitter. Lalu Google, bisa jadi akan semakin ditinggalkan jutaan penggunanya di seluruh dunia, karena akan lebih baik mengakses mesin pencari yang bisa menjadi satu dengan Twitter. Bisnis bukan semata kesempatan untuk mencari peluang, tetapi kecerdikan untuk menutup peluang. Google mesti membayarkan lebih banyak uang ke Twitter agar membuka lebih banyak aksesnya ke mesin pencari Google, ketimbang membuka akses lebih banyak ke mesin pencari lainnya. Fakta inilah yang termasuk turut mendorong Google untuk meluncurkan dan mengembangkan Google Plus.
TAMBANG UANG FACEBOOK, DAN TWITER DI ERA SEKARANG
Sekedar informasi, pada tahun 2012, Twitter disebutkan membukukan penerimaan sebesar USD 350 juta atau sekitar Rp 3,22 triliun (Alexis Tsotsis, TechCrunch, 18 Desember 2012). Tetapi angka tersebut diperkirakan akan terus menanjak hingga estimasi di 2014. Perkiraan terkini untuk tahun 2013 akan menembus di atas angka USD 1 miliar atau sekitar Rp 9,2 triliun. Sebesar 50% di antaranya diperkirakan berasal dari jasa periklanan pada layanan mobile (mobile ads). Bisa dikatakan pula, Twitter lebih banyak menggantungkan sumber penerimaannya yang berasal dari jasa periklanan. Sesuatu yang mungkin luput dari pengamatan kebanyakan pengguna Twitter, bahwa hanya dengan satu tombol tadi yang kemudian membuat terjadi aliran jutaan dolar setiap bulannya.

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *