Cerita Sejarang Keris Setan Kober Bab 7 Karya Apung GWAP

By | Februari 5, 2019

 Cerita Sejarah Keris Setan Kober Oleh Karya Ky Apung GWAP Sejarah Dari Demak Kota Wali Bab 7

Misteri keris setan kober bab 7 - Keris setan kober misterius - Cerita mistis keris setan kober - Kisah misteri keris setan kober - Misteri stean kober - Misteri keris pusaka setan kober - Misteri sejarah tentang keris setan kober - Keris setan kober arya pinangsang - Pusaka keris setan kober.
 
BAB 3 : BUNGA CEMPAKA 1
Ditulis oleh : Apung GWAP

Semuanya terjadi dalam waktu yang singkat, tubuh Klabang Ireng yang dadanya terkena telapak tangan Karebet yang dilambari aji Hasta Dahana, terdorong kebelakang dan terbanting ketanah dan tidak bangun kembali, mati, menyusul adiknya, Klabang Ijo yang telah mati lebih dulu.
Dua orang kakak beradik Klabang Ireng dan Klabang Ijo, sepasang perampok yang malang melintang tak terkalahkan disekitar bandar Jepara, akhirnya menemui ajalnya ditangan Karebet, seorang prajurit Wira Tamtama yang saat itu berpakaian seperti seorang petani.
Rangga Pideksa dan Tumpak baru tersadar setelah melihat Klabang Ireng terbanting di atas tanah dan tidak dapat bangun lagi.

Keduanya lalu berjalan mendekati Karebet. yang masih memandang tubuh Klabang Ireng yang tidak bergerak.
"Klabang Ireng dan Klabang Ijo sudah mati" kata Rangga Pideksa.
"Ya Ki Rangga" kata Karebet.
"Nanti biar dikubur oleh penduduk di desa ini, sekarang kita lihat dua orang perempuan yang pingsan itu" kata Rangga Pideksa.
"Perempuan itu masih pingsan, mari kita lihat disana" kata Karebet. Mereka lalu berjalan mendekati dua orang perempuan yang masih pingsan. Rangga Pideksa menebarkan pandangan, ternyata di kejauhan, ada beberapa orang laki-laki yang sedang berdiri dan melihat ke arah perkelahian, tetapi mereka terlihat ketakutan dan tidak berani mendekat.

Rangga Pideksa melambaikan tangannya memanggil mereka supaya mendekat.
Lima orang laki-laki datang mendekat, dan Rangga Pideksapun menyuruh mereka merawat dua orang perempuan yang masih pingsan, dan menguburkan dua mayat perampok.
Mereka bertiga lalu mendekati mayat perampok kakak beradik, betapa herannya Rangga Pideksa dan Tumpak, ketika melihat di dada Klabang Ireng ada gambar telapak tangan yang berwarna hitam, yang terjadi akibat terkena telapak tangan Karebet yang dilambari aji Hasta Dahana.
Tak berapa lama kemudian, dua orang perempuan yang pingsan telah siuman kembali, lalu dua seorang bergeser mendekati Rangga Pideksa. "Ki Sanak, aku mengucapkan terima kasih karena Ki Sanak telah menolong membebaskan istriku dari penculikan" kata salah seorang dari mereka
"Ya, itu sudah menjadi kewajiban kita, tolong menolong sesama manusia, kami juga minta tolong kepada kalian, untuk menguburkan dua orang perampok yang telah mati, selanjutnya karena perempuan yang pingsan sekarang sudah sadar, kami mohon pamit" kata Rangga Pideksa.

"Jangan lupa, coba nanti kalian cari disekitar daerah ini pasti ada perahu yang telah digunakan oleh dua perampok itu" kata Rangga Pideksa selanjutnya.
Setelah berpamitan, maka ketiganya berjalan menuju perahu mereka yang berada dekat muara sungai Tuntang dengan membawa serta senjata yang digunakan oleh para perampok.
Tak banyak yang mereka bicarakan, Rangga Pideksa dan Tumpak merasa heran akibat dari perkelahian tadi, tidak ada luka segorespun di tubuh Karebet, padahal mereka melihat beberapa kali cemeti Klabang Ireng menghantam tubuh Karebet.

Matahari sudah sedikit condong ke barat, ketika Karebet dan Tumpak naik ke atas perahu dan mendayungnya kembali ke kotaraja Demak.
Perlahan-lahan perahupun melaju kembali di sungai yang berkelok-kelok menuju ke hulu, ke arah kotaraja Demak.
Karebet dan Tumpak meminggirkan perahunya ketika mereka sampai di tempat pemberangkatan tadi pagi, di arah jalan yang menuju ke Kraton.
Setelah menambatkan perahunya, maka ketiganya berjalan menuju Kraton dan akan selesailah tugas yang dibebankan kepada mereka hari itu. Matahari hampir terbenam, ketika mereka bertiga memasuki pintu gerbang Kraton, dan merekapun menuju ruangan Wira Tamtama untuk menyimpan pedang mereka serta golok dan cemeti milik para perampok.
Setelah selesai semuanya merekapun berpisah, Tumpak pulang kerumahnya, Karebetpun pulang ke dalem lor, sedangkan Ki Rangga, bergegas menuju dalem Suranatan untuk melaporkan hasil dari tugas yang diberikan oleh Tumenggung Suranata.

Ketika Rangga Pideksa sampai di pintu dalem Suranatan, dilihatnya seekor kuda berwarna coklat, gagah, ditambatkan di tonggak sebelah pohon belimbing.
"Kebetulan, Ki Tumenggung Gajah Birawa berada disini" kata Rangga Pideksa dalam hati.
Rangga Pideksa berjalan menuju pintu rumah dan kebetulan Tumenggung Suranata melihat dirinya, sehingga Ki Rangga dipersilahkan masuk.
"Silahkan masuk Ki Rangga" kata Tumenggung Suranata yang duduk berhadapan dengan Tumenggung Gajah Birawa.
"Bagaiamana hasil perjalananmu Ki Rangga ?" tanya Tumenggung Suranata.
"Ki Tumenggung, kami semua selamat, tetapi ada suatu peristiwa yang mengejutkan" kata Ki Rangga, lalu Ki Rangga pun bercerita semuanya, tanpa ada yang terlewati.
Tumenggung Suranata dan Tumenggung Gajah Birawa mendengarkan cerita Rangga Pideksa dengan wajah yang penuh keheranan dan kekaguman.
"Jadi Karebet mampu membunuh dua orang perampok Klabang Ireng dan Klabang Ijo sekaligus?" tanya Tumenggung Suranata.

"Ya Ki Tumenggung, kalau Klabang Ireng tidak diambil alih oleh Karebet, saya bersama Tumpak pasti sudah mati dibunuhnya" kata Rangga Pideksa.
"Aku tahu, memang Klabang Ireng adalah perampok yang berilmu tinggi" kata Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung, pedang Tumpak sudah terlepas, pedang saya tidak bisa menyentuh tubuhnya, padahal saat itu Klabang Ireng belum mengeluarkan senjata cemetinya" kata Rangga Pideksa.
Tumenggung Gajah Birawa mengangukkan kepalanya mendengar cerita tentang Karebet.
"Jadi ada gambar telapak tangan hitam di dada Klabang Ireng ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa
"Ya Ki Tumenggung, kulit daging di dada Klabang Ireng hangus terbakar membentuk gambar telapak tangan, itu gambar bekas telapak tangan Karebet" kata Rangga Pideksa.
"Bagaimana selanjutnya Ki Tumenggung Suranata ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa
"Ya, matinya Klabang kakak beradik harus dilaporkan kepada Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Suranata
"Kebetulan malam ini saya dipanggil ke Kraton, peristiwa hari ini semuanya akan saya sampaikan kepada Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa

Waktu berjalan terus, pertemuanpun telah selesai, Rangga Pideksa sudah pulang ke rumahnya, sedangkan Tumenggung Gajah Birawa menuju Kraton, me
nghadap Sultan Trenggana.
Di dalem lor, setelah mandi dan membersihkan badannya, Karebet duduk diluar rumah, menganyam angan-angan tentang Gusti Mas Cempaka, putri Kanjeng Sultan Trenggana.
Sekar Kedaton yang dipingit, hampir tidak pernah keluar Kaputren, tetapi mengharapkan bertemu dengannya. "Hm besok lusa aku bertemu dengan Sekar Kedaton" kata Karebet dalam hati.
"Sekar kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, inikah yang dikatakan Kanjeng Sunan Kalijaga ? Mungkinkah disini tempatku nggayuh kamukten ? Atau menjadi menantu Kanjeng Sultan ?" pertanyaan itu yang melingkar-lingkar di pikiran Karebet.

Pikiran Karebet juga melayang-layang, disamping melamunkan Sekar Kedaton putri Sultan Trenggana, ia juga membayangkan putra Pangeran Sekar Seda Lepen yang sebaya dirinya, Arya Penangsang.
Mereka semua adalah cucu buyut Sang Prabu Brawijaya Pamungkas, sama seperti dirinya.
Pada saat yang bersamaan, di ruang dalam Kraton, Tumenggung Gajah Birawa telah menghadap Kanjeng Sultan Trenggana.
Ki Tumenggung bercerita tentang tugas Rangga Pideksa beserta Tumpak dan Karebet sewaktu menyusuri sungai hingga ke tepi pantai.
"Jadi Karebet berhasil membunuh dua orang perampok Klabang Ireng dan Klabang Ijo ?" tanya Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Ki Tumenggung.
"Dada Klabang Ireng hangus terbakar berupa gambar telapak tangan ?" tanya Kanjeng Sultan.
"Kasinggihan dalem, menurut Ki Rangga Pideksa memang dadanya berwarna hitam, bekas tangan Karebet" kata Ki Tumenggung
"Besok Rangga Pideksa supaya menghadap di Kraton, aku ingin mendengar langsung dari dia" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Hm mungkin Karebet punya aji Guntur Geni, Brama Dedali, atau Hasta Dahana, pada umur yang masih sangat muda, bagaimana mungkin dia mempunyai aji seperti itu" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dalem, mungkin bisa juga dia punya aji Salaksa Mawa yang bisa membakar tubuh lawannya" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.
"Melihat kemampuan Karebet yang tinggi, dan jasanya yang telah membunuh dua orang perampok, Klabang kakak beradik, kelihatannya Karebet sudah saatnya diangkat menjadi seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Sultan.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Gajah Birawa.
Tumenggung Gajah Birawa mengangguk-anggukkan kepalanya, dia berpikir, memang sudah sepantasnya kalau Karebet diangkat menjadi seorang Lurah Wira Tamtama.
Meskipun Karebet baru beberapa candra menjadi prajurit Wira Tamtama, tetapi kemampuan ilmu kanuragannya melebihi seorang Lurah, Rangga, Panji, bahkan seorang Tumenggungpun belum tentu bisa menang andaikan beradu ilmu kanuragan melawan Karebet.

Tetapi Tumenggung Gajah Birawa sadar, bahwa semua keputusan ada pada Kanjeng Sultan, tetapi ternyata keinginan mengangkat Karebet menjadi seorang Lurah Wira Tamtama justru datang dari Kanjeng Sultan Trenggana sendiri.
"Ternyata perhatian Kanjeng Sultan kepada Karebet besar sekali" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati.
"Tumenggung Gajah Birawa" kata Sultan Trenggana.
"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.
"Besok yang berangkat ke pantai ada berapa perahu?" tanya Kanjeng Sultan.
"Yang berangkat tujuh perahu Kanjeng Sultan, satu buah perahu kerajaan, dua buah perahu untuk para sentana dalem, sedangkan perahu untuk prajurit empat buah" kata Ki Tumenggung Gajah Birawa.

"Berapa orang Tumenggung yang ikut naik perahu ?" tanya Suktan Trenggana.
"Tiga orang, yang berangkat hamba sendiri, ditambah Tumenggung Suranata dan Tumenggung Gagak Anabrang" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Baik, ada lagi yang akan kau laporkan ? Kalau sudah selesai laporanmu, kau boleh pulang sekarang" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh, sudah selesai Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.
Tumenggung Gajah Birawa menyembah, perlahan-lahan ia bergeser kearah pintu dan keluar dari ruang dalam.

Malam itu suasana di kaputren masih seperti malam-malam sebelumnya, kaputren yang sepi, dibalut keheningan malam, bintang masih terus terlihat berkedip di angkasa, seakan ingin bertanya, apa yang kau cari Putri Sekar Kedaton?
Di kamarnya, putri Sekar Kedaton Kasultanan Demak, Gusti Mas Cempaka merasa betapa lama waktu berjalan, malampun merayap amat lambat.
"Tinggal dua malam lagi, aku bisa bertemu dengan Karebet" kata Sang Putri dalam hati.
Pada saat yang bersamaan, di dalem lor, Karebet tidur pulas karena tubuhnya terasa lelah, setelah seharian mendayung perahu, serta bertempur melawan melawan dua orang perampok kakak beradik yang berilmu tinggi, Klabang Ireng dan Klabang Ijo

Waktu terus merayap, diangkasa, bulanpun bersembunyi, malu karena matahari mulai memancarkan sinarnya, siap menjalankan tugasnya menyinari bumi.
Pagi itu, Karebet bersiap untuk berangkat ke Kraton, dirapikan pakaiannya, dan dengan langkah ringan, Karebetpun segera berjalan menuju ke Kraton
"Hari ini yang dikerjakan adalah mempersiapkan perahu dan joli jempana untuk keperluan besok pagi" kata Karebet dalam hati
Udara pagi yang segar, Karebet berjalan dengan senyum yang mengembang, hatinya senang dapat menjalankan tugasnya sebagai prajurit Wira Tamtama dengan baik.
Didepan pintu gerbang Kraton, Karebet berpapasan dengan seorang pemuda yang baru saja keluar dari pintu gerbang Kraton, pemuda dengan pandangan mata yang tajam berada diatas punggung kuda berwarna hitam, orang itu adalah putra Pangeran Sekar Seda Lepen, Arya Penangsang.
Karebet mengangguk hormat, terlihat Arya Penangsangpun dengan wajah yang dingin membalasnya, setelah itu tanpa menghiraukan Karebet, Penangsang menjalankan kudanya yang berwarna hitam, Gagak Rimang, ke lapangan ditepi sungai untuk berlatih kuda bersama temannya, Ki Lurah Pasar Pon.

Gagak Rimang berlari tidak terlalu kencang, hari masih pagi. Arya Penangsang menghirup udara di pagi hari: "Betapa segarnya udara pagi ini"
Tak lama kemudian Arya Penangsang sampai di pinggir lapangan rumput ditepi sungai, tetapi tidak seperti biasanya, kali ini tidak terlihat Ki Lurah Pasar menyambutnya.
"Sepi sekali, dimana Ki Lurah Pasar Pon? Biasanya dia sudah menanti di lapangan ini" kata Penangsang dalam hati.
Perlahan lahan Arya Penangsang menebarkan pandangannya berkeliling, sepi, tidak ada seekor kudapun yang kelihatan, hanya di kejauhan, terlihat seseorang sedang duduk diatas batang pohon kering yang telah tumbang, melintang ditepi sungai kecil.
"Siapa dia ? Apakah dia Ki Lurah Pasar ?" kata Penangsang dalam hati, dan perlahan-lahan Gagak Rimang berjalan maju mendekati orang itu.
Semakin lama semakin dekat, Penangsang menajamkan penglihatannya, dan orang itupun semakin jelas:"Ki Lurah Pasar ?" kata Penangsang dalam hati.
"Betul, dia Ki Lurah Pasar" kata Arya Penangsang.
Ketika sampai didekat orang yang duduk diatas sebuah batang pohon tumbang, Arya Penangsang turun dari kudanya dan menghampiri orang tersebut.
"
Kau Lurah Pasar Pon, apa yang terjadi ? Kenapa wajahmu bengkak membiru seperti itu ?" tanya Arya Penangsang.
"Baru saja ada beberapa orang yang memukulku tanpa sebab raden" kata Ki Lurah.
"Siapa dia?" tanya Penangsang.
"Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng, mereka berdua bersama seorang pembantunya, mencari orang yang membunuh Sura Alap-alap" kata Ki Lurah.
Arya Penangsang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dimana kudamu" tanya Penangsang.
"Kudaku diambilnya, dibawa oleh pembantunya yang bertubuh pendek" kata Lurah Pasar.
"Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng sekarang berada dimana ?" tanya Penangsang dengan suara dalam dan pelan.
"Mereka menunggu raden di arah selatan, di ara-ara amba didekat sebuah pohon kelapa yang melengkung, mereka menantang raden" kata Ki Lurah.

"Mereka menantangku ?" tanya Penangsang dengan suara bergetar.
"Ya, dia berkata, kalau Arya Penangsang yang gagah perkasa karena telah membunuh Sura Al
ap-alap, tidak berani menemui Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng, maka Penangsang tidak usah keluar dari dalem Kesatrian, cukup didalam Kraton saja minta pengawalan para prajurit Wira Tamtama" kata Ki Lurah.
"Minggir !!!" teriak Penangsang.
Ki Lurah Pasar Pon terkejut, dilihatnya wajah Arya Penangsang menjadi memerah, tangannya gemetar, dengan cepat Lurah Pasar Pon bangkit berdiri dan bergeser menjauhi Arya Penangsang yang sedang berdiri dengan kaki renggang, dan sedang bersiap memusatkan semua kekuatannya di kedua telapak tangannya.
Lurah Pasar terkejut dan membelalakkan matanya ketika melihat Arya Penangsang mateg aji kebanggaannya yang mampu menghancurkan batu padas sebesar gudel.
"Aji Panglebur Jagad" kata Ki Lurah Pasar Pon ketakutan, sambil berjalan tertatih-tatih menjauh dari tempat Arya Penangsang.

Ketika aji Panglebur Jagad sudah manjing di telapak tangannya, Penangsang dengan cepat melompat kearah batang pohon melintang yang sudah kering yang baru saja menjadi tempat duduk Lurah Pasar Pon.
Batang pohon kering, menjadi sasaran kemarahan Arya Penangsang, dihantam oleh sisi telapak tangan yang dilambari aji Panglebur Jagad.
Dengan suara berderak keras, batang pohon kering yang ukurannya lebih besar dari paha orang dewasa, patah menjadi dua.
Lurah Pasar Pon terkejut dan ketakutan mendengar suara berderak keras, ketika batang pohon kering yang melintang, yang baru saja dipakainya sebagai tempat duduk, patah menjadi dua terkena sisi telapak tangan Arya Penangsang.
"Kau tunggu disini !" teriak Penangsang kepada Lurah Pasar Pon.

Lurah Pasar Pon hanya diam mematung, tetapi dadanya berdegub kencang sekali.
Kemarahan Arya Penangsang belum mereda, dia segera berbalik dan berjalan menuju kudanya, dan segera meninggalkan pohon yang telah patah terkena sisi telapak tangannya yang berisi aji Panglebur Jagad.
Arya Penangsang berjalan menuju tempat Gagak Rimang, lalu dengan cepat diambilnya sebuah pedang pendek yang tersimpan dibawah pelana kudanya.
Arya Penangsang yang tak kenal takut, tidak pernah menghindar dari tantangan pertarungan, dengan cepat naik diatas punggung Gagak Rimang dan dipacunya menuju tempat yang dikatakan oleh Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng, ke arah selatan, ke sebuah ara-ara amba yang didekatnya terdapat sebuah pohon kelapa yang melengkung
Tangan kiri Penangsang memegang pedang pendeknya, sedangkan tangan kanan memegang kendali Gagak Rimang, pandangannya tajam menyapu kedepan untuk mencari lawan yang telah menantangnya..
Gagak Rimang berlari ke arah selatan, dan tak lama kemudian Arya Penangsang akan sampai di daerah ara-ara amba.

Ketika dilihatnya sebuah pohon kelapa yang melengkung kebawah, Arya Penangsangpun segera memasuki sebuah daerah ara-ara yang luas, sebuah tanah lapang, padang rumput yang sebagian tanahnya tumbuh tanaman perdu yang tidak begitu lebat.
Dikejauhan, dilihatnya tiga orang duduk diatas punggung kuda, menunggu kedatangannya.
Berada di atas punggung kuda disebelah kanan, seorang berumur setengah baya, bertubuh sedang, berkumis melintang, mempunyai pandangan mata yang tajam.
Ditengah-tengah, seorang perempuan duduk diatas punggung kuda, memakai pakaian laki-laki, berumur setengah baya, dalam bayangan matanya menyorot penuh dendam kesumat.

Duduk diatas punggung kuda di ujung paling kiri, seorang kepercayaan sepasang Alap-alap gunung Kendeng, seorang yang bertubuh pendek, ditangannya tergenggam sebuah pedang.
Sedangkan dibelakangnya terdapat seekor kuda tanpa penumpang, itulah kuda milik Lurah Pasar Pon.
"Nyai, itu dia orangnya, benar dugaanku, Penangsang pasti datang, orang itulah yg telah membunuh adikmu" kata orang yang duduk dipunggung kuda, yang matanya tajam, setajam mata burung Alap-alap.
"Ya Ki Lurah, kali ini aku yang akan membalaskan dendam adikku, Sura Alap-alap" kata perempuan yang duduk dipunggung kuda disebelahnya, Nyai Alap-alap.
"Biar aku sendiri yang membunuhnya Ki Lurah" kata orang kepercayaannya yang bertubuh pendek.
"Hati-hati Branjangan, siapkan pedangmu, bunuh dia pada tusukan pertama" kata Nyai Alap-alap.
"Ya, Nyai, lihat saja nanti, dia akan kubunuh" kata Branjangan.
"Hati-hati Manuk Kuntet, dia berilmu tinggi" kata Alap-alap kepada orang kepercayaannya, Branjangan yang bertubuh pendek.
"Tenang saja Ki Lurah, nanti dia akan bernasib sama dengan Jagabaya dusun Selur yang saya bunuh sepasar yang lalu" jawab Branjangan.
"Manuk Kuntet, jangan kau samakan Penangsang dengan Jagabaya dusun Selur yang baru bisa bermain gobag sodor" kata Alap-alap.
Branjangan tidak menjawab, tapi dia mempersiapkan pedangnya, untuk membunuh Arya Penangsang pada tusukan pertama.

Arya Penangsang memasuki ara-ara amba dengan penuh kewaspadaan, pedangnya dipegang dengan tangan kiri, Gagak Rimangpun berderap perlahan menuju ke arah Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng.
"Itu dia Penangsang, aku mohon Ki Lurah tunggu disini dulu, biar aku yang melawannya, nanti Ki Lurah bisa melihat kehebatan ilmuku, akan aku bunuh dia pada jurus yang pertama, tidak sampai sepenginang, dia pasti sudah mati" kata Branjangan.
"Manuk Kuntet, bunuh dia, jangan kau kecewakan Lurahmu" kata Alap-alap Gunung Kendeng.
Meskipun Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng mengetahui Arya Penangsang berilmu tinggi, tetapi mereka percaya kepada pembantunya yang bertubuh pendek, Branjangan, tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya.
Jarak antara Gagak Rimang dengan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng masih agak jauh, tetapi Penangsang melihat ada seekor kuda yang berlari menuju ke arah dirinya.
Orang kepercayaan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng yang bernama Branjangan, meskipun mempunyai tubuh yang pendek, namun dengan penuh percaya diri, dia berani menempatkan dirinya seorang melawan seorang menghadapi Arya Penangsang.

"Ada seorang yang mendekat, aku harus mengurangi seorang lawan, supaya nanti lebih mudah menghadapi Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng" kata Penangsang didalam hatinya.
Ketika kuda lawannya sudah dekat Gagak Rimang seakan-akan mengerti tugasnya, kuda hitam yang tadinya berlari, tiba-tiba berhenti menunggu lawan.
Kuda hitam Arya Penangsang, Gagak Rimang terlihat senang mendapatkan lawan, dia meringkik keras dan dengan tiba-tiba kuda itu berdiri tegak diatas kedua kaki belakangnya.
Penangsang yang tubuh dan hatinya telah menyatu dengan kuda hitamnya tidak mengalami kesulitan, meskipun Gagak Rimang mengangkat kedua kaki depannya, dan dengan segera pedang pendeknya dipindah ke tangan kanannya, sedangkan kendali kuda dipegang dengan tangan kiri.
Ketika Gagak Rimang menurunkan kaki depannya, dilihatnya lawannya yang berada dipunggung kuda terkejut dan mengalami kesulitan untuk menguasai kudanya.

Kuda yang dikendarai oleh Branjangan terkejut ketika kendalinya tertarik oleh penunggangnya karena didepannya ada seekor kuda hitam yang mengangkat kaki depannya, sehingga kuda Branjanganpun berhenti dan juga berdiri diatas kaki belakangnya.
Branjangan yang berada dipunggung kudanya menjadi gugup, belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tuba kuda hitam Penangsang yang berdiri diatas kaki belakangnya, telah menurunkan kaki depannya dan kuda hitam itu melompat menyerang ke arahnya.
Branjangan yang terkejut, telah kehilangan waktu sekejap, dan ternyata waktu yang sekejap itu ternyata telah merubah segalanya
Susah payah Branjangan menguasai kudanya yang baru saja menurunkan kaki depannya, datang serangan dari Penangsang yang berada diatas kuda hitamnya, tebasan pedang kearah dadanya.
Branjangan terkejut melihat pedang yang mengarah ke dadanya, dia yang kehilangan waktu sesaat, tidak ada jalan lain, Branjangan segera melintangkan pedangnya mencoba menahan laju pedang pendek Penangsang.
Semua terjadi dalam waktu singkat, tebasan kuat dari pedang Arya Penangsang, ditambah dorongan tenaga lompatan kuda hitam Gagak Rimang, tidak dapat ditahan oleh pedang Branjangan.

Terjadi benturan keras, pedang Arya Penangsang be
radu tenaga dengan pedang Branjangan, ternyata tenaga Branjangan bukan tandingan tenaga Arya Penangsang, akibatnya pedang Branjangan terlempar jatuh kebawah, dan pedang Arya Penangsangpun terus bergerak kedepan tidak tertahan, menyobek dada Branjangan, sehingga ia terpelanting dari kuda, dengan luka sabetan pedang yang parah.
Branjangan jatuh terbanting ketanah tidak dapat bangun kembali, dan dari kejauhan, Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng terkejut ketika melihat Branjangan jatuh pada serangan pertama.
Alap-alap Gunung Kendeng memajukan kudanya sambil menghunus pedangnya:
"Manuk Kuntet telah mati, ayo Nyai, kita mulai, kita keroyok dia" katanya sambil membawa kudanya berderap maju.
Cepat Nyai Alap-alap menghunus pedang tipisnya dan iapun menyongsong kuda lawannya.
Arya Penangsang meninggalkan Branjangan yang tergeletak ditanah dan membawa Gagak Rimang menyongsong mendekati lawannya.
Alap-alap Gunung Kendeng berkuda disebelah kanan, sedikit merenggang untuk memberi ruang kepada pasangannya menjalankan rencananya membunuh Arya Penangsang.
Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng melarikan kudanya sejajar, berusaha menjepit Arya Penangsang ditengah, tetapi Penangsang bukan orang bodoh yang mau dijepit oleh dua orang lawan, maka dengan cepat dibelokkannya Gagak Rimang ke sebelah kanan dan dipacunya dengan cepat untuk menghindari jepitan lawannya.
Nyai Alap-alap terkejut ketika melihat Arya Penangsang menghindar, cepat ia membelokkan kudanya ke kiri mengejar kuda Arya Penangsang.
Arya Penangsang membawa Gagak Rimang berputar setengah melingkar di ara-ara amba, berusaha untuk berada dibelakang kuda Nyai Alap-alap.
Arya Penangsang segera memacu kuda hitamnya dengan cepat, dan Gagak Rimang adalah seekor kuda yang tegap dan gagah serta mempunyai kecepatan yang tinggi.

Arya Penangsang mengendalikan kuda hitamnya berputar setengah lingkaran, dekat dibelakangnya mengejar kuda Nyai Alap-alap, tapi Gagak Rimang adalah kuda yang mampu berlari kencang, sehingga dengan mudah Arya Penangsang berlari menghindar, menjauh dari kuda Nyai Alap-alap, dan iapun memacu Gagak Rimang mengejar kuda Alap-alap Gunung Kendeng.
Alap-alap Gunung Kendeng melihat Arya Penangsang mendekat dari sebelah kiri, maka kudanya dilarikan dengan cepat, menghindari serangan dari sebelah kiri yang akan sulit ditangkis dengan tangan kirinya.
Dengan cepat Alap-alap Gunung Kendeng memutar kudanya sehingga berhadapan dengan Penangsang, dan keduanya saling memacu kudanya mendekat.
Pedang Alap-alap Gunung Kendeng terjulur kearah lawannya, dengan mudah Arya Penangsang menangkis dengan pedangnya, belum sempat dia membalas menyerang, datang serangan dari kuda Nyai Alap-alap yang dipacu ke arahnya.

Terjadilah perkelahian diatas punggung kuda, dua lawan satu, dua ekor kuda yang dikendarai oleh Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng melawan Arya Penangsang yang duduk diatas punggung kuda hitamnya, Gagak Rimang.
Arya Penangsang adalah orang yang cerdik, dia tidak mau melawan dua orang berkuda sekaligus, dia berusaha untuk melawan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng satu demi satu.
Penangsang memacu kudanya untuk mencari posisi yang baik, Alap-alap Gunung Kendeng mengejarnya, tetapi lawannya adalah Gagak Rimang, kuda hitam yang kecepatannya seperti tatit. Nyai Alap-alap terkejut ketika kuda hitam Arya Penangsang dipacu melingkar dan berusaha berada disebelah kirinya.
Nyai Alap-alap berusaha memacu kudanya menjauh, tetapi Arya Penangsang tetap mengejar dan tidak melepaskannya. Nyai Alap-alap berdesir hatinya, dia merasa kesulitan untuk menghindar dari kejaran lawannya, sedangkan kuda Alap-alap Gunung Kendeng berada disebelah kanannya, sehingga tidak bisa membantunya.

Alap-alap Gunung Kendeng berusaha menggeser kudanya, dari sebelah kanan ke belakang kuda Nyai Alap-alap lalu mengejar kuda Arya Penangsang untuk menolong pasangannya, tetapi dia telah kehilangan waktu sekejap, karena Arya Penangsang telah berada didepannya dengan pedang pendek yang mengancam ke arah Nyai Alap-alap.
Nyai Alap-alap segera memindahkan pedangnya ke tangan kiri, dan iapun sudah siap bertempur dengan tangan kiri.
Arya Penangsang melihat kelemahan lawannya, dipacunya Gagak Rimang menyusul kuda Nyai Alap-alap, sedangkan dibelakangnya menyusul kuda Alap-alap Gunung Kendeng mengejarnya.
Dengan lompatan yang panjang, Gagak Rimang dalam sekejap telah berada disamping kuda lawannya, dan Pedang Arya Penangsang terjulur kearah Nyai Alap-alap, dengan susah payah Nyai Alap-alap menangkisnya, tapi tusukan pedang berubah menjadi sabetan menyilang.

Nyai Alap-alap masih berusaha menangkis dengan pedang yang berada di tangan kirinya, tapi tenaganya tidak sekuat tenaga Arya Penangsang, dan pedang tipisnya tidak bisa menahan kekuatan yang tersalur lewat tangan lawannya.
Sabetan Arya Penangsang ditangkisnya dengan pedang yang berada di tangan kirinya, dan terjadilah benturan keras, tanpa bisa dicegah, pedang tipisnya jatuh terlempar,
Dengan cepat tangan Nyai Alap-alap meraba ikat pinggangnya, sekejap kemudian tangannya telah memegang sebuah pisau belati.
Tanpa senjata panjang, Nyai Alap-alap merasa kesulitan menghadapi lawannya, maka segera kudanya dipacu menjauh dari lawannya.
Arya Penangsang sudah berniat mengurangi lawan satu demi satu, maka dipacunya Gagak Rimang mengejar Nyai Alap-alap dan Gagak Rimangpun mengerti keinginan penunggangnya, dikejarnya kuda didepannya dengan sekuat tenaga.

Hati Alap-alap Gunung Kendeng tercekat, kudanya dipacu untuk menghalangi niat Arya Penangsang membunuh pasangannya, tetapi jaraknya tidak bertambah dekat, dan dilhatnya kuda Arya penangsang sudah mendekati kuda Nyai Alap-alap.
Nyai Alap-alap berada dalam kesulitan, lawannya berada disebelah kiri dan selalu bisa mengejarnya, belatinya terlalu pendek untuk melawan sebuah pedang, dia tidak dapat minta pertolongan pasangannya, karena kuda Alap-alap Gunung Kendeng berada dibelakangnya.
Gagak Rimang adalah seekor kuda yang baik, dan penunggangnya sangat trampil diatas punggung kuda. Beberapa saat kemudian Gagak Rimang sudah bisa sejajar dengan kuda lawannya,
Penangsang menyerang dengan sabetan pedangnya, Nyai Alap-alap terpaksa menghindar dengan memiringkan tubuhnya, tapi Arya Penangsang menjulurkan pedangnya menyentuh leher, dengan susah payah Nyai Alap-alap menangkis dengan pisau belatinya dan semuanya terjadi dalam waktu sekejap.

Ketika pedangnya ditangkis lawannya dengan pisau belati, Arya Penangsang menarik serangannya dan merubahnya menjadi sabetan menyilang kearah punggung dan Nyai Alap-alap menjerit nyaring karena merasa punggungnya terkena sabetan pedang lawannya sehingga tanpa dapat dicegah diapun jatuh dari atas punggung kuda.
Setelah berhasil menjatuhkan lawannya, Penangsang memutar kudanya untuk menghadapi Alap-alap Gunung Kendeng yang marah karena kehilangan pasangannya.
Matahari pagi semakin terang, menyinari ara-ara amba, embunpun semakin lama semakin menipis.
Alap-alap Gunung Kendeng menjadi sangat marah, maka iapun mengejar kuda hitam Arya Penangsang yang lari berputar di ara-ara.
Kudanya dipacu dengan cepat, seperti burung alap-alap mengejar mangsanya, tetapi yang dikejar adalah Gagak Rimang, kuda tinggi besar yang larinya cepat seperti kilat, tak akan bisa dikejar oleh seekor burung alap-alap.
Arya Penangsang adalah seorang yang cerdik, ia melarikan kudanya mengelilingi ara-ara, lalu dengan cepat Gagak Rimang dilarikannya kearah timur.

Agak jauh dibelakangnya, Alap-alap Gunung Kendeng mengejarnya, ketika sampai diujung timur, maka Gagak Rimang berbalik ke arah barat, menyongsong kuda Alap-alap Gunung Kendeng.
Alam telah memberi keuntungan kepada Arya Penangsang yang cerdik, yang berpacu membelakangi matahari pagi.
Ketika kuda Alap-alap Gunung Kendeng sudah berhadapan dengan kuda Arya Penangsang, Alap-alap Gunung Kendeng terkejut karena wajahnya menghadap kearah matahari, matanya silau terkena sinar matahari pagi.
Dia menyadari kesalahannya,tetapi su
dah terlambat, karena lawannya telah berada dihadapannya.
Lebih terkejut lagi ketika datang serangan tebasan pedang dari Arya Penangsang, dengan sekuat tenaga dia bertahan dengan membentur pedang Arya Penangsang.

Alap-alap Gunung Kendeng yang pendangannya silau oleh sinar matahari pagi, tidak melihat ketika Arya Penangsang membelokkan arah pedangnya, dia hanya merasakan lengannya tersentuh pedang lawannya, sehingga pedangnya terlempar jatuh kebawah.
Penangsang segera memutar kudanya menghadap lawannya, untuk menyelesaikan Alap-alap Gunung Kendeng, tetapi alangkah terkejutnya ketika dilihatnya lawannya telah memacu kudanya kencang sekali, melarikan diri ke arah selatan.
"Pengecut !!" teriak Arya Penangsang dan betapa marahnya dia ketika melihat lawannya memacu kudanya menjauh, dengan segera ujung kakinya menyentuh perut Gagak Rimang dan kudanyapun melompat mengejar Alap-alap Gunung Kendeng ke arah selatan.
Lengannya sudah terluka, dan tanpa menggunakan senjata panjang, Alap-alap Gunung Kendeng merasa tidak akan mampu menghadapi Arya Penangsang, dan selagi ia masih punya kesempatan, ia mempergunakan waktu yang sekejap untuk menyelamatkan dirinya.

Dendamnya yang sundul langit karena pasangannya dibunuh Arya Penangsang, membuatnya berpikir untuk menyelamatkan diri, lain waktu ia akan datang lagi ke Demak untuk membalas dendamnya, membunuh Arya Penangsang.
Alap-alap Gunung Kendeng memacu kudanya cepat sekali, menghindari Arya Penangsang yang kini telah berubah menjadi orang yang sangat menakutkan.
Penangsang yang marah melihat Alap-alap Gunung Kendeng secara pengecut tinggal glanggang colong playu, melarikan diri, berkali-kali menyentuh perut Gagak Rimang dengan kakinya, dan Gagak Rimangpun semakin cepat mengejar kuda yang didepannya dengan sekuat tenaga.
Alap-alap Gunung Kendeng menjadi ketakutan, kudanya sudah dilecutnya, tapi masih terasa lambat, dan ketika dia menengok kebelakang untuk melihat pengejarnya, hatinya kecut ketika melihat lawannya bukannya semakin jauh, tetapi menjadi semakin dekat dengan dirinya.

Semakin lama Gagak Rimang semakin dekat dengan kuda Alap-alap Gunung Kendeng, dan Arya Penangsang merasa sudah tiba saatnya untuk mengakhiri petualangan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng.
Ketika jarak Gagak Rimang dengan kuda Alap-alap Gunung Kendeng tinggal dua-tiga langkah, maka iapun bersiap menyelesaikan pengejarannya.
Arya Penangsang lalu memegang pedang pendeknya, bukan di hulu pedangnya, tetapi tangan kanannya memegang pedang pendek pada ujungnya yang runcing, dan dengan tenaganya yang kuat, ditambah daya dorong kudanya, Arya Penangsang melempar pedang pendeknya ke arah punggung Alap-alap Gunung Kendeng yang hanya berjarak dua-tiga langkah.
Sekejap kemudian Alap-alap Gunung Kendeng terjungkal dari atas punggung kudanya, jatuh terlempar ketanah, karena di punggungnya telah tertancap pedang pendek Arya Penangsang.
Gagak Rimang masih berlari beberapa puluh langkah kedepan, semakin lama semakin pelan, lalu Arya Penangsangpun membelokkan kudanya, memutar menuju ke tempat Alap-alap Gunung Kendeng terjatuh.
Arya Penangsang turun dari kudanya, dan dengan penuh kewaspadaan, ia mendekati Alap-alap Gunung Kendeng, dan setelah memastikan lawannya mati, maka pedang pendeknya dicabut dari pungung lawannya.

Penangsangpun naik ke punggung Gagak Rimang dan di jalankannya kembali utara, ke arah ara-ara amba.
Di ara-ara amba, dilihatnya ada tiga ekor kuda yang berpencar, seekor kuda milik Nyai Alap-alap, seekor kuda milik Branjangan dan seekor kuda milik Lurah Pasar Pon.
Arya Penangsang mendekati kuda milik Lurah Pasar Pon, lalu dipegangnya kendali kuda itu, dan dibawa menuju pemiliknya, Lurah Pasar Pon yang masih menunggu di lapangan rumput tempat mereka berlatih kuda.
Penangsang lalu menyerahkan kuda kepada pemiliknya, dan dengan tangan gemetar, Lurah Pasar Pon menerima kudanya kembali.
"Ini kudamu, Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng beserta pembantunya telah mati, ada dua mayat di ara-ara amba, satu lagi agak di sebelah selatannya" kata Penangsang.
"Aku akan melaporkan kejadian ini kepada prajurit Wira Manggala, biar nanti para prajurit yang mengurus penguburannya serta mengurus kuda dan senjata milik Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng beserta pembantunya. Kau tunggu disini, nanti kalau kau ditanya prajurit Wira Manggala, katakan apa yang telah terjadi sebenarnya" kata Penangsang.
"Ya raden" jawab Lurah Pasar Pon.
Setelah itu Arya Penangsang mengendarai Gagak Rimang menuju ke Kraton untuk melaporkan peristiwa terbunuhnya Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng dan seorang pembantunya, kepada prajurit Wira Manggala.

Pada saat yang bersamaan, saat itu di halaman Kraton telah berkumpul beberapa orang prajurit Wira Tamtama, dan mereka berkumpul menunggu perintah dari Rangga Pideksa.
Sesaat kemudian terlihat Rangga Pideksa memasuki pintu gerbang, lalu berjalan mendekati para prajurit Wira Tamtama.
"Kalian tunggu disini dulu, aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan" kata Rangga Pideksa, dan tanpa menunggu jawaban, Ki Rangga telah berjalan menuju ruang dalam, menghadap Kanjeng Sultan Trenggana.
Karebet dan belasan orang prajurit Wira Tamtama masih menunggu di halaman Kraton,

Setelah cukup lama Rangga Pideksa berada didalam ruangan Kanjeng Sultan, maka Ki Ranggapun terlihat berjalan keluar menuju ketempat para prajurit.
"Itu Ki Rangga sudah selesai" kata seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak.
Rangga Pideksa terlihat sedang berjalan menuju tempat para prajurit, setelah tadi di ruang dalam, Kanjeng Sultan bertanya tentang peristiwa terbunuhnya perampok Klabang kakak beradik, dan Rangga Pideksa telah menceritakan semuanya.
Setelah itu, Kanjeng Sultanpun mengutarakan keinginannya untuk mengangkat Karebet menjadi seorang Lurah Wira Tamtama.
"Hm sebentar lagi Karebet akan menjadi seorang Lurah Wira Tamtama, bagus, kemarin aku masih bernasib baik, kalau kemarin tidak ada Karebet, aku sudah mati dibunuh Klabang Ireng" kata Rangga Pideksa dalam hati.

Rangga Pideksa juga ikut senang kalau nanti Karebet diangkat menjadi seorang Lurah Wira Tamtama, karena Karebet memang sudah pantas menjadi seorang Lurah Wira Tamtama.
Rangga Pideksa yang baru saja meninggalkan ruangan dalam, berjalan menuju ke halaman, dan berbicara dengan para prajurit Wira Tamtama.
"Hari ini kita mempersiapkan perahu yang akan digunakan untuk keperluan besok pagi, selain itu juga mempersiapkan tandu joli jempana untuk Kanjeng Prameswari dan untuk Sekar Kedaton Gusti Mas Cempaka, Sedangkan Kanjeng Sultan akan mengendarai kuda bersama yang lain sampai di sungai Tuntang" kata Rangga Pideksa.
"Sekarang kita mulai mempersiapkan perahu, sedangkan sebagian lag mempersiapkan tandu joli jempana, ayo kita berangkat sekarang" kata Rangga Pideksa sambil berjalan keluar dari Kraton menuju sebuah bangunan dibelakang Kraton, tempat penyimpanan perahu dan tandu kerajaan. Rangga Pideksa membawa mereka masuk ke sebuah bangunan yang besar.

Karebet melihat didalam bangunan, ada sebuah sungai kecil yang kering, tanpa air, didalamnya terdapat beberapa perahu.
Perahu yang terbesar bisa memuat belasan orang, dan perahu itu mempunyai atap yang terbuat dari kayu.
Para prajurit mulai dibagi tugas, ada sebagian yang membersihkan tandu joli jempana, dan sebagian lagi ada yang membersihkan perahu.
Beberapa prajurit diperintahkan membersihkan dua buah perahu ukuran kecil, dan satu buah perahu ukuran yang agak lebih besar. Karebet bersama beberapa prajurit yang lain, bertugas membersihkan perahu yang paling bagus, perahu yang beberapa bagian kayunya diukir, yang nanti akan diperuntukkan bagi Sultan Trenggana, Kanjeng Prameswari dan putri Sekar Kedaton Putri Mas Cempaka.
Dengan menggunakan sepotong kain kecil yang dibasahi dengan air, Karebet bersama beberapa prajurit lainnya bertugas membersihkan ukiran perahu yang agak besar.

Sebuah perahu kerajaan, canthik-nya yang besar terbuat dari kayu jati yang diukir berup
a kepala seekor burung, paruhnya melengkung, matanya melihat tajam kedepan, dengan lehernya yang berupa ukiran bulu .
Sambil membersihkan canthik perahu yang berbentuk kepala burung, Karebet melihat ada ukiran aksara yang bisa dibaca, diukir halus dibawah ukiran bulu leher, sebuah suku kata, yang terdiri dari tiga buah aksara.
Ga nglegena, Ra suku, Dha nglegena.
"Ga Ru Dha, perahu Kyai Garuda, ternyata ini adalah perahu Kasultanan Demak yang bernama Kyai Garuda" kata Karebet dalam hati, sambil mengagumi ukiran canthik perahu.

Sebuah kayu yang diukir bagus dan rapi, ukiran sebuah kepala burung garuda, dengan paruh yang melengkung kebawah, mata garuda yang menatap tajam kedepan, dengan bulu leher yang tertata rapi
"Ini perahu Kasultanan Demak, hanya dipakai oleh Kanjeng Sultan, namanya Kyai Garuda" kata Tumpak yang sedang membersihkan dinding perahu dengan menggunakan kain basah. "Ya" jawab Karebet.
"Perahu Kyai Garuda pernah dipakai Kanjeng Sultan menyusuri pantai sampai bandar Jepara, tetapi dua candra yang lalu perahu ini sedikit bocor, tapi kemarin sudah ditambal dengan kulit pohon yang berbau wangi, dan sekarang sudah baik, tidak bocor lagi" kata Tumpak.
(bersambung)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *