Sport Wisata Taman Nasional Bali Barat

By | Oktober 4, 2019

Mari kita jelajah Taman Nasional Bali Barat yang sangat indah dan spektakuler pilihan wisata keluarga ideal dengan sport bagus

Taman Nasional Bali Barat
Taman Nasional Bali Barat
https://www.idntimes.com

Jelajah Taman Nasional Bali Barat

Kebanyakan para wisatawan yang datang ke Bali 'masuk' melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, setelah itu mereka sibuk dengan rencananya masing-masing dan biasanya hanya berkutat di kawasan Bali Selatan. Jika ada yang ingin kabur dari hiruk pikuk kawasan padat wisatawan, biasanya Bali Utara atau Bali Timur dipilih menjadi alternatif mengingat durasi tempuhnya tidak terlampau lama, dan fasilitasnya tidak jauh berbeda.

Baca Juga : Pantai Melasti Bali Dengan Segala Keindahan

Namun tidak banyak yang memilih kawasan Bali Barat sebagai tujuan untuk berlibur. Untuk menuju kawasan Bali Barat diperlukan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.Satu-satunya jalan pintas untuk menuju kawasan Bali Barat adalah melalui jalur darat dari Banyuwangi. Siang itu, rute tersebut yang saya pilih untuk memasuki kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Sekitar pukul 14.00 WIB saya mendarat di Bandar Udara Blimbingsari, Banyuwangi. Sebenarnya hanya perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai kawasan TNBB, itu pun sudah termasuk penyeberangan dengan kapal feri dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali yang durasi sekitar 30 menit.Begitu tiba di Gilimanuk, hanya perlu waktu lima menit dengan menggunakan kendaraan bermotor untuk menemukan gerbang masuk kawasan TNBB.

Namun karena rekan seperjalanan saya waktu itu terlampau lapar, akhirnya kami memutuskan mencari makan siang di Banyuwangi. Menunya apalagi kalau bukan Nasi Tempong dan Rujak Soto khas Banyuwangi.Kami pun tiba di Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 17.30 WIB, pendaran cahaya mentari yang akan tenggelam menemani penyeberangan kami ke Pulau Dewata.

Baca Juga : Keindahan Menakjupkan Danau Batur Bali

Saat itu bukan musim liburan, jadi kapal pun terasa lengang. Hanya ada sekitar 25 orang yang berada di ruang tunggu penumpang. Saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan mengelilingi kapal feri yang sudah usang, sembari mengamati cahaya mentari menghilang dengan perlahan. Gelombang di Selat Bali pertengahan bulan Oktober tidak membuat kapal limbung. Perjalanan ini terasa syahdu dan senyap, Bali pun terlihat lebih gelap ketimbang Banyuwangi yang kini makin gemerlap.

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *