Sindrom Lelah` Mengintai, Waspada Jantung! Perlu Segera diatasi

By | Februari 22, 2019

Padatnya aktivitas bisa membuat tubuh kelelahan. Untuk mengatasinya, istirahat adalah hal paling efektif dilakukan untuk meredakan lelah dan letih.
Tapi bila usai istirahat rasa lelah tak kunjung hilang dan terjadi terus menerus, Sahabat Dream harus waspada.
Gejala itu bisa jadi pertanda penyakit serius. Rasa lelah bisa mengindikasikan bahwa organ tubuh bekerja terlalu keras. Pada kasus Fatigue Syndrome (Sindrom Kelelahan), 20 persennya disebabkan oleh aritmia.
" Aritmia merupakan gangguan produksi atau penjalaran impuls pada otot jantung. Hal ini meyebabkan jantung bekerja terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga menimbulkan rasa lelah," ujar dokter Dicky Hanafy, spesialis jantung dan pembuluh darah di Palmerah, Jakarta Barat, Rabu 24 Januari 2018.
Pada aritmia jenis Bradiaritmia, laju jantung bekerja terlalu lambat di bawah 60 denyut per menit. Sementara jenis Takiaritmia menyebabkan jantung bekerja terlalu cepat hingga lebih dari 100 denyut per menit.
Dokter Dicky menyebutkan, salah satu kasus aritmia yang paling sering terjadi adalah Fibrilasi Atrium (FA). Gangguan impuls ini bisa memicu penyakit yang lebih serius seperti stroke.
" Pada penderita FA, pasien akan mengalami risiko stroke 5 kali lebih tinggi. Ironisnya, sebagian besar pasien tidak mengalami keluhan. Padahal 80 persen diantaranya sering mengalami kelelahan," ujarnya.
Sahabat Dream yang sering mengalami kelelahan harus lebih waspada. Aritmia biasanya juga disertai dengan jantung berdebar, denyut nadi tidak teratur, sensasi pusing hingga pingsan.
" Sebaiknya rutin meraba nadi sendiri setiap pagi hari. Normalnya berkisar antara 60-90 denyut per menit. Apabila dirasa tidak normal dan disertai dengan gejalalain, harus segera cek ke dokter," Dicky menegaskan.
Aritmia bisa diatasi dengan obat antikoagulan untuk mencegah penggumpalan darah. Beberapa elektroterapi seperti ablasi dan pemasangan alat pacu jantung juga bisa digunakan untuk menangani aritmia.
Namun saat ini, dokter ahli aritmia di Indonesia hanya berkisar 25 orang. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan deteksi secara mandiri sebelum berlanjut menjadi penyakit serius.

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *